Kesal :|

Kesal :|

Saya nggak pernah mau jadi polisi moral. Gak kepikiran juga untuk jadi seperti itu. Tapi belakangan ini saya dibikin gusar sama beberapa hal:
1. Orang yang ingkar sama appointment yang udah disepakati
To be honest, I judge people on how they deal with appointment. Everytime you make a deal with someone else, you let them make a space in the middle of their day or time. Tingkat kesulitan tiap orang untuk mengosongkan waktu juga beda-beda. Buat orang yang sibuk banget dengan berbagai kegiatan, hal itu tentu susah. Tapi herannya, ada aja gitu ya orang yang dengan mudahnya bikin janji lalu ngebatalin dengan alasan sepele. Bukan cuma ngebatalin, kadang juga ngegantungin sampe akhirnya ngebatalin. Ntah kenapa belakangan ini saya ngalamin hal ini like millions times dan saya gondoknya setengah mati. Udah susah-susah ngosongin waktu dan menunda kegiatan atau ajakan lain, eh digantungin lalu dibatalin gitu aja. I mean like, don’t you realize that doing such thing is harmful, people! Rasanya kesel karena ngerasa digampangin, seolah posisi mereka lebih tinggi karena menganggap pengingkaran janji seenak jidat itu nggak akan bikin saya marah. YA MENURUT LO! Apalagi buat beberapa orang yang emang udah agak kebiasaan bersikap kayak gini, siap dimasukin daftar hitam kayaknya.

2. Orang yang minta tolong tapi kasar

Manusia memang makhluk sosial, sudah seharusnya kita tolong-menolong. But please mind your manner bisa kan ya kalo minta tolong karena ketika kita minta tolong, artinya kita sedang meminta orang lain untuk menyisihkan waktu dan tenaganya untuk membuat kita terlepas dari suatu kesulitan. Sekecil apapun hal itu, please give some respect. Perlu diingat, setiap kali kita menyatakan permintaan pertolongan, orang yang kita hadapi itu punya kemungkinan dan hak untuk menerima atau menolak, yang salah satunya bisa disebabkan oleh gestur kita. Kalo minta tolong dengan cara bossy, rasanya kok kayak kurang sopan dan kurang beradab.

Saya menghormati perbedaan kultur dan sebagainya, tetapi saya juga percaya ada beberapa hal di dunia ini yang normanya sudah disepakati bersama meski tanpa peraturan tertulis dan acara jabat tangan, seperti tingkah laku dalam membuat janji dan meminta tolong. Bahkan untuk orang yang sudah mengenyam pendidikan tinggi, dua hal tersebut sudah seharusnya dikuasai dengan sendirinya karena dua hal di atas adalah sedikit dari berbagai gestur dan perilaku kita yang mencerminkan bagaimana kita mampu menghargai orang lain. Yang termudah bahkan, karena kita sudah terbiasa melakukannya sejak kecil.

Saya juga nggak sempurna. Tapi setidaknya saya berusaha dan belajar semaksimal mungkin untuk tidak menyakiti orang lain gara-gara hal kayak gini, dan rasanya itu jauh lebih baik dibanding mereka yang nggak mau belajar sama sekali. Atau malah nggak kepikiran untuk melakukannya.
Grow up. I do as well.

Snow on The Sahara

Snow on The Sahara

by : Anggun

Only tell me that you still want me here
When you wander off out there
To those hills of dust and hard winds that blow
In that dry white ocean alone

Lost out in the desert
You are lost out in the desert

To stand with you in a ring of fire
I’ll forget the days gone by
I’ll protect your body and guard your soul
From mirages in your sight

Lost out in the desert

If your hopes scatter like the dust across your track
I’ll be the moon that shines on your path
The sun may blind our eyes, I’ll pray the skies above
For snow to fall on the Sahara

If that’s the only place where you can leave your doubts
I’ll hold you up, and be your way out
And if we burn away, I’ll pray the skies above
For snow to fall on the Sahara

Just a wish and I will cover your shoulders
With veils of silk and gold
When the shadows come and darken your heart
Leaving you with regrets so cold


Beautiful, isn’t it? :”)

Chlorophylla ‘Athia

Chlorophylla ‘Athia

Namanya mahasiswa tingkat akhir, kadang kala lebih sibuk galau diduluin temen-temennya nikah daripada diduluin wisuda atau kuliah lagi atau kerja. Ntah sengaja dilebih-lebihin biar drama atau emang beneran pengen nikah juga hahaha. Saya sendiri dari jaman semester 1 udah sering banget denger kabar temen-temen saya nikah, khususnya temen-temen di GMP. Waktu denger kabar mereka mau nikah sih saya biasa-biasa, soalnya rata-rata bukan temen-temen deket juga sih. Jadi ya.. nikah nikahlah sana.

Lain cerita begitu suatu hari seorang sahabat saya di SMA, Athia, menelpon saya. Waktu itu saya lagi KKN di dusun Kepuh (yang sekarang sudah lenyap ditelan abu vulkanik Merapi). Di tengah sinyal yang buruk, saya telepon-teleponan sama dia. “Iya, gw sekarang sama Mas Ilham, blablablabla. Doain ya taun depan gw nikah, kalo skripsi dan segala macem gw udah selesai.”
I was like.. WHAT?! WHAT?! Sangat kebetulan juga kalo Athia memiliki tanggal-bulan-lahir yang sama dengan saya. I was speechless and surprised (apa shocked ya? haha -__-)

One of my bestfriends is about to get married. OH MY GOD.

Ini nih.. ini dia yang akhirnya bikin saya tertegun (set!). Tapi saya pikir, oh okay masih tahun depan. Saat itu saya pikir, I MUST COME. But but but.. skripsi gueh apa kabar men? Soalnya saya bertekad gak mau pulang ke Lampung sebelum skripsi selesai. Soalnya kalo udah pulang, saya bisa stuck. Di tempat saya di sana, internet susah kecuali saya mau berlama-lama di kantor papa saya. Ya nggak juga lah yaaa. Makanya saya putuskan, skripsi harus dikerjakan di jogja atau jakarta kalo memang harus. Tapi ya sutralah ya nanti aja dipikir.
Pernikahan Athia akan diadakan di Lampung, dan saya sama sekali ga kepikiran kalo acaranya juga akan diadakan di jogja (ngunduh mantunya gitu) karena suaminya orang jogja, yassalam. Jadi yang saya pikir, saya harus ke Lampung, TITIK.

Time flies. Saya termenung menunggu dosen pembimbing pulang dari Australia, dan kerjaan saya cuma nonton Grey’s Anatomy sampe akhirnya saya masuk RS beneran gara-gara gejala typhus haha. Begitu dosen saya pulang dan saya ngerjain skripsi (kayaknya Desember apa Januari deh), Athia mengabari lagi kalo her wedding will be held at April. That was another moment of “WHAT?!” APRIL for God’s sake.
Saya lihat kalender. Kalo saya mau datang ke pernikahan Athia, berarti saya harus menyelesaikan skripsi saya sebelum April. Artinya, saya harus udah sidang pendadaran di bulan Maret. Saya baru akan seminar proposal bulan Januari, dan hari sidang Maret berarti acc udah harus saya dapatkan maksimal akhir Februari. Holy crap how can I how can I.. HOW CAN I?

Memang ya, yang namanya motivasi itu datangnya bisa dari mana aja. Buat saya, pernikahan Athia harus banget saya hadiri. Dia sahabat saya dari SMA (waktu masih tengil-tengilnya. Sampe sekarang juga masih kali ya hahaha). Saya pikir, kalo saya maksa pulang sebelum skripsi saya selesai, saya melanggar ‘hukum’ dari awal bahwa selama skripsi belom selesai, HARAM hukumnya pulang kampung. Gak bagus juga buat kelangsungan skripsi saya, bisa terbengkalai. Kalo saya selesaiin, bisa gak..?

Selama skripsi saya kerjakan itu, sesekali saya teleponan sama Athia. Dia cerita-cerita tentang persiapan pernikahannya yang rempongnya luar biasa. Nyari ini lah, itu lah zzzzzzz. Saya sendiri sambil kepikiran, duh saya bisa datang ke acara nikahan dia gak ya T________T
Saat itu saya cuma bisa bilang, “Gw usahain banget bisa dateng ya cong. Gw kejer beneran kok skripsi gw ini.” Hiks hiks.
Saya kok ya sama sekali ga kepikiran kalo resepsi bakal digelar di jogja gitu. Athia juga ga bahas masalah itu, ya udah lah ya bagus juga jadi ga tersantai-santai hahaha.

Dengan tekad saya harus datang ke pernikahan Athia dengan semua beban skripsi selesai itulah yang juga jadi motivasi saya untuk segera menyelesaikan skripsi saya. Alhamdulillah juga pas dosen saya sangat kooperatif untuk diajak bimbingan-bimbingan, dan otak saya pas lagi nggak gesrek jadi bisa diajak mikir berat sepanjang bulan haha. *puk puk kepala sendiri*

Akhirnya, skripsi saya selesai dan saya pulang ke Lampung awal April 2011 setelah semua urusan sidang dan revisi selesai. Lega! Tingga nunggu detik-detik pernikahan Athia tanggal 17 April.

Waktu mendekati hari-H saya janjian datang sama Fathia dan Arla. Ironisnya, tanggal 17 April itu adalah hari ulang tahun Fathia dan dia sendiri saat itu masih jomblo HAHAHAHAHAHA. Parah banget ini.
Kami excited banget waktu itu, berangkat dari rumah Fathia (yang tentunya didahului ritual ala ala perempuan masa kini *alah*). Sampe akhirnya masuk gedung resepsi, rasanya tuh.. JRENG!
OMG that’s my bestfriend standing there with her husband. (dramatisasi aja sih ini) Luar biasa aja rasanya ngeliat sahabat saya itu nikah setelah melalui berbagai kisah cinta waktu SMA pffffffffffffftttttttt *pissssss cong!*

reception :)

Setelah Athia nikah, saya gak pernah ketemu dia lagi karena saya banyak menghabiskan waktu di Jogja. Biasa, penyakit freshgrad. Galau nyari ini dan itu untuk masa depan. Saya baru ketemu Athia lagi minggu lalu, sama suaminya, karena mereka menghabiskan liburan Idul Adha di tempat orang tua suaminya di sini. Itu untuk pertama kalinya saya bisa ketemu dan ngobrol-ngobrol lagi sama dia, dan bisa kenal personal sama suaminya, Mas Ilham. And you know what, Athia lagi hamil 7 bulan :”)
Terharu gitu ngeliat perutnya membesar dan dia semacam rapuh, ga bisa berdiri kelamaan, ga bisa duduk kelamaan. Nggak Athia banget lah yeaaa! hahaha.

She's.. pregnant :")

Habis pergi sama Athia, saya bbm Fathia cerita ini-itu tentang pertemuan saya sama Athia, lalu kami termenung. “Kita kapan ya kayak gitu?” HAHAHA *jeduk-jedukin kepala ke tembok*

Well, it was very nice to finally meet your married friend and seeing her happy with her spouse. Semoga nanti bisa ketemu lagi waktu Athia melahirkan (ntah di kota mana, dia sendiri masih bingung -__-)

I WISH YOU A VERY HAPPY LIFE, DEAR!

See you when I see you! :*

‘Kelambanan’

‘Kelambanan’

Suatu hari di lab komputer saat kelas statistik (sebut saja kemarin. Ya memang kemarin kok pfftt)
Dosen : Sudah pada selesai input data kan? Apa ada yang belum selesai?
Aconk : Saya Pak..
Dosen : Wah, ada gejala otokorelasi ini. Gejala KELAMBANAN..
Winar : KELAMBANAN temple?
Class : -___________________-

Cam!

Cam!

Duh gimana ini ya makin lama makin ngerasa blog ini kekurangan gegambaran dan fefotoan. Boro-boro blog, pergi sama temen aja jarang bgt foto-foto gara-gara kekurangan sumber daya. Tapi gimana dong, digicam sudah lama dinyatakan tidak reliable gara-gara baterenya soak (I feel dumb reading my own writing of SOAK), jadi mau gak mau cuma pake kamera HP/BB aja yang kualitasnya tentu tidak seberapa. Kalo udah kayak gitu, jd malas berfoto-foto karena pasti hasilnya busyuk kalo udah masuk laptop. Hahaha. Aduh butuh camera, dan postingan ini sama sekali tidak kontributif terhadap kepemilikan kamera di masa depan. Ga usah DSLR lah ya, saya gak segaul itu juga haha. Digicam aja kayaknya cukup. Tapi… Beli nggak beli nggak.. krik krik.

Ouch, market. Ouch.

Ouch, market. Ouch.

“We long for more connection between what we do for living and what we genuinely care about, for work that’s more than clock-watching drudgery. We long for release from anonymity, to be seen as who we feel ourselves to be rather as the sum of abstract metrics and parameters.
We long to be part of a world that makes sense rather than accept the alienation imposed by market forces too large to grasp, to even contemplate. And this longing is not mere wistful nostalgia, not just some unreconstructed adolescent dream. It is living evidence of heart, of what makes us most human.
But companies don’t like us, human. They leverage our longing for their own ends. If we feel inadequate, there’s a product that will fill the hole, a bit of fetishistic magic that will make us complete. Our role is to consume.
We die. And there’s more than one way to get it over with. Advertising has some serving suggestion for your premature burial.” (Christopher Locke, 2000)

Cited from The Cluetrain Manifesto : The End of Business as Usual (Rick Levine et. al, 2000)